Tuesday, November 25, 2014

Kompleksitas dalam Pendefinisian Informal Value Transfer System

Ada beberapa istilah yang digunakan dalam penyebutan Informal Value Transfer System (IVTS) yang berlaku saat ini dan digunakan oleh berbagai kalangan dan lembaga-lembaga internasional yang ada (Shima Keene, 2007 : 6). Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF) menggunakan istilah Alternative Remittance System (ARS) untuk menggambarkan suatu jasa keuangan yang digunakan dalam kegiatan pentransferan dana dalam jumlah tertentu dari satu lokasi ke lokasi lainnya, dimana sistem ini biasanya beroperasi diluar sektor keuangan formal (FATF, 2003 : 1). Sementara itu, World Bank dan International Monetary Fund (IMF) menggunakan istilah Informal Funds Transfer System (IFTS) (Mohammed El Qorchi, 2003 : 12) untuk menggambarkan suatu sistem keuangan yang berada diluar, atau sejajar dengan saluran perbankan konvensional, atau sistem pengiriman uang formal lainnya (APEC, 2003 : 3). Istilah lainnya yang digunakan dalam penyebutan Informal Value Transfer System ialah underground banking, unregulated banking, alternative banking, parallel banking dan quasi-banking (Nikos Passas, 1999 : 9).


FinCen mendefinisikan informal value transfer system sebagai “any system, mechanism, or network of people that receives money for the purpose of making the funds or an equivalent value payable to a third party in another geographical location, whether or not in the same form”.

Australian National Crime Authority mendefinisikannya sebagai “an unofficial (or parallel) banking system…, which enables funds to move from one country to another without production of a paper trail” (Shima Keene, 2007 : 7).

Schaap dan Mul mendefinisikan informal value transfer system sebagai “a system which is subject to no external auditing, control or supervision, whereby money or value can be transferred from one country to another” (Shima Keene, 2007 : 7).

The Financial Action Task Force (FATF) dalam Money Laundering/Terrorist Financing Typologies Report pada tahun 2005 mendefinisikan Alternative Remittance System sebagai: “any system used for transferring money from one location to another, and generally operating outside the banking channels”.

Terdapat beberapa permasalahan mengenai definisi IVTS diatas yang berkaitan dengan beberapa alasan sebagai berikut, yaitu: Pertama, penggunaan istilah “underground banking” dalam pendefinisan IVTS tidaklah tepat karena di beberapa negara IVTS ini justru digunakan atau beroperasi secara terbuka; Kedua, penggunaan kata “alternative” dalam penyebutan IVTS juga dapat menyesatkan, karena hal tersebut seakan-akan ingin menunjukan bahwasanya terdapat sistem pengiriman uang lain yang beroperasi, seperti adanya sistem pengiriman uang utama atau sistem pengiriman uang konvensional lain yang dapat digunakan; Ketiga, penggunaan kata “informal” dalam pendefinisian IVTS juga dapat menimbulkan permasalahan, karena terdapat kesulitan dalam upaya melakukan pembedaan antara jalur pengiriman uang secara formal dengan informal, dimana terkadang kedua sistem ini justru sering bergabung saat terjadi transaksi keuangan sehingga untuk membedakannya tidaklah mudah; Keempat, masalah lainnya ialah banyaknya terminologi yang menghubungkan IVTS ini dengan kegiatan kriminal dan kegiatan yang bersifat rahasia. Meskipun sistem pengiriman uang ini dapat disalahgunakan oleh penjahat, layaknya sistem keuangan lainnya seperti perbankan yang juga sering dimanfaatkan oleh para penjahat dalam melakukan aksi kejahatannya, namun penelitian terhadap kasus-kasus yang pernah dilakukan menunjukan bahwa IVTS ini justru lebih sering digunakan dalam kegiatan yang sah (Shima Keene, 2007 : 7).

Penggunaan terminologi alternatif dalam penyebutan sistem pengiriman uang ini bergantung pada lokasi geografis dimana sistem pengiriman uang ini digunakan dan juga etnis yang menggunakan sistem tersebut, sehingga sistem pengiriman uang alternatif ini dapat dijumpai dengan nama yang berbeda di beberapa negara, yaitu (Nikos Passas, 2003 : 25-26):


  1. Hawala; memiliki arti kepercayaan, referensi, pertukaran, dalam bahasa Arab, kata hawala memiliki arti untuk “mengubah” atau “mentransformasikan” (Nikos Passas, 1999 : 11) dan memiliki arti “referensi” dalam agama Hindu. Hawala berasal dari India, Uni Emirat Arab, dan Timur Tengah (Nikos Passas, 2003 : 25);
  2. Hundi; umumnya diterjemahkan sebagai kepercayaan (Nikos Passas, 1999 : 11); mirip dengan wesel atau promes, yang berakar dari bahasa Sansekerta yang berarti “mengumpulkan”. Hundi berasal dari Pakistan dan Bangladesh (Nikos Passas, 2003 : 25);
  3. Fei ch’ien; memiliki arti sebagai “uang terbang” (flying money), berasal dari China;
  4. Phoe kuan; sistem pengiriman uang alternatif yang berasal dari Thailand;
  5. Hui k’uan; memiliki arti untuk mengirimkan sejumlah uang, yang berasal dari dialek mandarin China;
  6. Ch’iao hui; berasal dari dialek mandarin China, yang memiliki arti pengiriman uang luar negeri;
  7. Nging sing kek; memiliki arti sebagai surat uang yang dapat digunakan untuk berbelanja, berasal dari Tae Chew dan kelompok berbahasa Cantonese;
  8. Chop shop; istilah yang digunakan oleh orang-orang asing dalam menyebutkan salah satu metode pengiriman uang yang berasal dari China, berasal dari China;
  9. Chiti banking; mengacu pada kata “chit” yang digunakan sebagai tanda terima atau bukti klaim dalam transaksi keuangan atau bisnis yang diperkenalkan oleh orang Ingris di China; yang merupakan singkatan dari “chitty”, sebuah kata yang berasal dari Hindi yaitu “chitthi”, yang berarti menandakan sebuah nilai atau angka;
  10. Hui atau hui kuan; yang berarti asosiasi, berasal dari orang-orang Vietnam yang tinggal di Australia;
  11. Door to door, sistem pengiriman uang alternatif yang berasal dari Padala, Negara Pilipina;
  12. Black market currency exchange (pasar gelap mata uang); berasal dari Amerika Selatan, Nigeria, dan Iran;
  13. Stash house; memiliki arti sebagai rumah pertukaran (casa de cambio), suatu sistem yang berasal dari Amerika Selatan.

Referensi:

  1. Apec. 2003. Informal Funds Transfer Systems in the APEC Region: Initial Findings and a Framework for Further Analysis APEC ARS Working Group Report prepared for APEC Finance Ministers and Deputies Meeting. Phuket. Thailand.
  2. FATF. 2003. Typologies Report on Money Laundering.
  3. Mohammed El Qorchi. 2003. Informal Funds Transfer Systems: An Analysis of the Informal Hawala System. International Monetary Fund and World Bank.
  4. Nikos Passas. 2003. Informal Value Transfer Systems, Terrorism and Money Laundering. A Report to the National Institute of Justice.
  5. Nikos Passas. 1999. Informal Value Transfer Systems and Criminal Organisations; a study into so-called underground banking networks. The Hague: The Netherlands Ministry of Justice.
  6. Shima Keene. 2007. Hawala and related Informal Value Transfer Systems: An assessment in the context of Organised Crime andTerrorist Finance. The Defence Academy Journal.

0 comments:

Post a Comment